“IRSHAD MANJI”
Berdasarkan artikel yang sudah saya baca, pada acara diskusi Irshad
Manji, yang bertema kan tentang“Agama, Kebebasan, dan Keberanian Moral",
di yogyakarta tepatnya di kampus Universitas Gajah Mada (UGM), pada tanggal 9
Mei 2012 dibatalkan oleh pimpinan Universitas.
Akibat dari pembatalan acara diskusi tersebut banyak komentar dari
berbagai pihak, ada yang mengatakan “setuju” dengan diadakannya diskusi
tersebut, ada juga yang tidak. Sebenarnya,
bicara soal kebebasan dalam menentukan suatu sikap, kita tentu sepakat,
bahwa di setiap kampus, dan di komunitas
atau lembaga mana pun, pasti diterapkan “ kebebasan” secara terbatas. Dan kebebasan dibatasi oleh norma-norma yang
berlaku dimasyarakat dan tentuka itu bukan dalam bentuk tertulis. Walaupun
tidak tertulis, seorang mahasiswa biasanya tidak berani memanggil dosennya
dengan nama si dosen saja. Padahal, tidak ada larangan untuk itu.
Contoh lain, seorang anak bebas bicara pada orangtuanya. Tapi, pada
umumnya, seorang anak tidak akan
bertanya kepada ayahnya, “Maaf, Ayah, bisakah saya mendapatkan bukti ilmiah,
yang empiris dan rasional, bahwa saya anak Ayah?” *:D, Itulah yang namanya norma-norma dalam
masyarakat.
Soal “kebebasan akademik” di
dalam kampus, sudah diatur dalam pasal 22,
UU Sisdiknas, UU No. 20/2003: “Dalam penyelenggaraan pendidikan dan
pengembangan ilmu pengetahuan pada
perguruan tinggi berlaku kebebasan akademik dan kebebasan mimbar akademik
secara otonomi keilmuan.”
Jadi, kebebasan akademik dan kebebasan mimbar, seharusnya berkaitan
dengan penyelenggaraan pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Dalam
konteks inilah kita bisa menilai, apakah tepat
mengundang seorang Irshad Manji ke lembaga keislaman dan Perguruan
Tinggi. Emm, dan pastinya akan muncul berbagai pendapat, yang mungkin saja
saling berlawanan, tergantung ‘pandangan alam’ atau worldview si pengamat
masalah.
Seorang sekular-liberal yang telah melepaskan diri dari nilai-nilai
Ketuhanan dan keakhiratan, tentu sangat setuju atau tanggap dengan promosi Irshad Manji. Apalagi, dia orang
berkewarganegaraan Barat (Kanada), menulis dalam bahasa Inggris, yang biasanya
bagi sebagian orang “bermental jajahan” dianggap hebat dalam sebuah peradaban.
Apalagi, Irshad Manji mempromosikan pola pikir liberal terhadap al-Quran dan
ajaran-ajaran Islam lainnya.
Yang lebih parah lagi, si Irshad Manji sangat berani menyatakan
diri sebagai “MUSLIMAH LESBIAN”, -_- apa-apaan neh!!
Bagi kaum liberal, ini sesuatu yang menarik! Belum lagi, dukungan
media Barat dan lembaga-lembaga keuangan tertentu di Barat terhadap usulan dan
aktivitas si Manji. Maka, dengan demikian lengkaplah unsur-unsur yang membuat Irshad Manji patut dibanggakan
sebagai “seorang liberal yang sempurna”.
Bagi kaum liberal, yang terpenting adalah kebebasan. Tentunya kebebasan tersebut tidak mengganggu
kepentingan mereka. Karena, biasanya, kaum liberal tidak akan suka jika
kelemahan yang ada di dirinya di remehkan.
Dan itu manusiawi, serta itu juga terdapat dalam KUHP tentang masalah
“pencemaran nama baik”.
Berdasarkan artikel lagi, katanya seorang liberal yang mulutnya
terlalu lebar atau monyong, mungkin tak akan suka jika dipanggil dengan
kekurangan fisik pada mulutnya. Di sini,
manusia menjadi tidak bebas!
Konon, ada sebuah klub nudis (telanjang), yang dibentuk dengan
alasan ingin bebas dari segala peraturan, terutama dalam soal pakaian. Mereka
benar-benar ingin bebas dari segala macam peraturan. Yang anehnya, dalam klub
mereka, dibuatlah peraturan: siapa pun yang bergabung dengan mereka, maka harus
telanjang! :D
Terus, bagi seorang Muslim
yang memegang teguh aqidah dan worldview (pandangan alam) Islam, sejak awal
sudah memiliki paham, bahwa kebebasan dalam Islam bukanlah kebebasan
melakukan tindakan apa saja atau bicara seenaknya. Bahkan, di dalam kitab-kitab Tauhid untuk
sekolah dasar, sudah diajarkan “hukum
riddah”, yang salah satunya: seorang
bisa rusak keislamannya, karena ia mengucapkan kata-kata buruk yang merusak keimanannya. Bertindak pun tidak bebas. Bahkan,
berprasangka saja ada aturannya; alias tidak bebas! Kita dilarang untuk
berprasangka buruk dalam hal-hal tertentu.
Karena itu, Muslim punya kebebasan hanya untuk memilih yang baik . Muslim tidak bebas memilih yang jahat. Muslim tidak bebas untuk berzina, korupsi,
menyuap, apalagi berpraktik homo dan lesbi.
Bahkan, Muslim dilarang menyakiti dan membunuh dirinya sendiri, dengan
alasan tubuh manusia adalah milik-Nya (Allah SWT) Seutuhnya. Selain itu Muslim
pun tidak bebas mengatur hartanya, karena harus berpedoman pada aturan Allah
SWT dan Rasulullah SAW.
Karena itulah, seorang Muslim yang memahami dan memegang teguh
worldview Islam, tidak mungkin berpikiran bebas, tanpa batas-batas yang sudah
ditentukan oleh Sang Pencipta. Itulah makna dari syahadat yang diucapkannya:
“Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa
Muhammad adalah utusan Allah.” Sangat
aneh, jika orang mengaku Muslim, membaca dua kalimah syahadat, tetapi menolak untuk tundak pada ketentuan
Allah dan Rasul-Nya.
*** Masuk ke dalam pembahasan inti.
Dalam kerangka worldview Islam,
Sebenarnya sebagai umat mulim, kita sangat mudah menentang atas kasus
Irshad Manji. Karena,
1. Irshad Manji adalah lesbi
2. dan dia bangga dalam mempromosikan kelesbiannya. Manji juga
sangat bersahabat bahkan mendukung pandangan dan sikap Salman Rushdie,
seorang yang sangat biadab dalam melakukan penghinaan terhadap Nabi Muhammad
SAW.
Dengan logika sederhana sekali, kita bisa mengatakan, bahwa
mengundang seorang lesbi seperti Irshad Manji untuk berbicara di Kampus adalah
sangat tidak patut dan tidak baik. Kecuali, jika Manji berceramah di komunitas
lesbian dan komplek pelacuran. Mengapa? Di dalam Islam, orang yang melakukan
dosa, tapi mengakui perbuatannya dosa, masih jauh lebih baik baik daripada
seorang yang menghalalkan apalagi bangga dengan perbuatan dosa.
Seorang pelacur atau koruptor masih terbuka pintu taubat baginya,
dengan catatan jika dia sadar, bahwa
yang dia kejakan adalah salah, dan dia mau bertobat secara sungguh-sungguh.
Tapi, ini akan berbeda sama-sekali dengan pelacur atau koruptor yang malah
berbangga dengan tindakannya; sebab ia telah menyenangkan atau membantu orang
lain. Misalnya, kasus seorang pelacur yang kemudian menulis buku yang berjudul:
“TUHAN IZINKAN AKU MENJADI PELACUR.” -_- sungguh kasihan!
Dengan kebanggaan sebagai Lesbi, Irshad Manji sebenarnya sama
posisinya dengan pezina. Bahkan, lebih dari itu, dia bangga berbuat zina. Dalam
buku terbaru yang dipromosikan di Indonesia kali ini, “Allah, Liberty and
Love, Suatu Keberanian Mendamaikan Iman dan Kebebasan”, dia banyak
mengungkap kebanggaannya sebagai seorang
lesbi. Ia pun tak malu-malu mengatakan siapa pasangan hidupnya (entah sebagai
suami atau istri). Bahkan, kata-kata yang digunakan Manji dalam berbagai bagian buku ini sangat tidak
layak untuk di baca.
Sekilas tentang isi buku Irshad manji
di buku ini, misalnya, Irshad Manji
menulis, bahwa ia mendapatkan sebuah pertanyaan dari seorang yang tak
menyebutkan namanya (anonim): “Mantan-saudari se-Islam, Irshad: Apa agama
pasangan lesbi Anda? Yahudi?”
Irshad Manji menjawab: “Aku bertemu pasanganku di gereja Anglikan,
ketika menghadiri kebaktian sebagai bagian dari penelitianku untuk program TV
baru. Terkait pertanyaanmu, aku meminta dia berterus terang mengenai agamanya.
Aku menuntut kebenaran. Jawaban dia, “Panggil saja aku Shlomo.” Aku masih
menyesuaikan diri.”
Trus ada lagi pertanyaan
seorang yang ditulis identitasnya oleh Manji sebagai “Mo”. Orang ini bertanya: “Kami mestinya menendang
pantatmu ke neraka, biar bisa merasakan
api neraka membakarmu hidup-hidup. Kau memang sepalsu neraka, jangan muncul dengan buku-buku bodohmu
tentang Islam. (Mo).
Jawab Irshad Manji : “Biar aku luruskan, Mo. Aku ini sepalsu
“neraka,” tapi pantatkuharus ditendang “ke neraka” yang menurut
penjelasanmu, adalah tujuan yang
“palsu”? Mau coba lagi?”
Irshad Manji sepertinya sangat menikmati pertanyaan-pertanyaan dan
hujatan-hujatan kasar, sehingga memberi kesempatan padanya untuk
mempertontonkan kemampuannya untuk berkata dan bersikap lebih kasar! Ada lagi contoh ini lain,saya baca dari
artikel yang memuat tentang diskusi dalam forum tertentu. Seorang bernama
Falaha mengirimkan pertanyaan kepada Manji:
“Izinkan aku mengawali dengan mengatakan, betapa bermanfaat buku
Anda sesungguhnya. Menurutku, ternyata, buku itu jauh lebih murah digunakan
sebagai tisu toilet ketimbang paket tisu
toilet biasa. Tapi, aku ada keluhan: lembaran-lembarannya sedikit kasar
di bagian tertentu, sementara kulitku sensitif. Lalu, terlintas ide bagus. Buku
kamu akan bertambah laku kalau disertai pelembab... Tolong beritahu, kalau kau
setidaknya memikirkan ide ini. Aku jamin, ini ada gunanya bagi penjualan
bukumu, walau aku lebih suka metode kebersihan yang tradisional. Tentang citra
kamu, tak banyak yang bisa aku katakan atau sarankan untuk perbaikan. Menyewa
seorang humas mungkin ada gunanya (atau memecat yang sekarang). Sukses dan
terus menulis. (Falaha).”
Terhadap pertanyaan yang dimuat sendiri dalam bukunya, Irshad Manji
menjawab sebagai berikut:
“Salam pantat kasar! Mengenai masalah pencitraanku, aku bukan orang
yang mengumbar kebiasaanku di kamar mandi pada dunia. Tapi aku lega (begitulah
kira-kira), kalau jadwal buang air besarmu kelihatannya teratur. Dan artinya,
kau mengambil bukuku secara teratur juga. “Intinya”, aku tak pernah butuh
humas, selama aku memilikimu.”
Melalui berbagai bagian dalam buku ini, Irshad Manji sangat jelas
mempromosikan kelesbiannya.
Sulit dipungkiri, membaca buku Irshad Manji yang terbaru ini, juga
buku sebelumnya, memang jauh dari kebenaran. Apakah ini ada kaitan dengan
kondisi kejiwaan seorang lesbian yang banyak mengalami penderitaan di masa
kecilnya? Wallahu A’lam. Yang jelas, seorang berinisial “SR” menulis surat kepada Irshad Manji yang juga dimuat di dalam buku Manji sendiri:
“Halo Nona Irshad sang Lesbian Feminis Liberal. Aku seorang Muslim
moderat yang berpendidikan, dan kurasa kamu ini berkhayal demi ketenaran dan
ketamakan. Nah, ini judul yang bagus dan bisa kau pertimbangkan untuk
buku-bukumu selanjutnya: “Bagaimana aku bisa membodohi Barat agar berpikir
homoseksualitas diterima dalam Islam.” Satu lagi, “Bagaimana menjual
dirimu pada setan.”
Astagfirullahalazim...
Dari seluruh uraian tersebut, mungkin banyak hubungannya dengan norma-norma yang berlaku di indonesia, contoh norma kesusilaan, norma agama, norma sosial dan mungkin bahkan norma hukum. Apalagi kita sebagai warga negara Indonesia yang mayoritas nya beragama islam. Semoga hal-hal tersebut tidak menodai keimanan kita. Amin Ya Rabbal alamin ^,^
Dari seluruh uraian tersebut, mungkin banyak hubungannya dengan norma-norma yang berlaku di indonesia, contoh norma kesusilaan, norma agama, norma sosial dan mungkin bahkan norma hukum. Apalagi kita sebagai warga negara Indonesia yang mayoritas nya beragama islam. Semoga hal-hal tersebut tidak menodai keimanan kita. Amin Ya Rabbal alamin ^,^
0ooooooo----oooooooo0
Alhamdulillah..
0 komentar:
Posting Komentar