Karena Hidup adalah "METAMORFOSA" :)

Selasa, 22 Mei 2012

Posted by Unknown in , | 11:20:00 PM No comments

“IRSHAD MANJI”
Berdasarkan artikel yang sudah saya baca, pada acara diskusi Irshad Manji, yang bertema kan tentang“Agama, Kebebasan, dan Keberanian Moral", di yogyakarta tepatnya di kampus Universitas Gajah Mada (UGM), pada tanggal 9 Mei 2012 dibatalkan oleh pimpinan Universitas.
Akibat dari pembatalan acara diskusi tersebut banyak komentar dari berbagai pihak, ada yang mengatakan “setuju” dengan diadakannya diskusi tersebut, ada juga yang tidak. Sebenarnya,  bicara soal kebebasan dalam menentukan suatu sikap, kita tentu sepakat, bahwa  di setiap kampus, dan di komunitas atau lembaga mana pun, pasti diterapkan “ kebebasan” secara terbatas.  Dan kebebasan dibatasi oleh norma-norma yang berlaku dimasyarakat dan tentuka itu bukan dalam bentuk tertulis. Walaupun tidak tertulis, seorang mahasiswa biasanya tidak berani memanggil dosennya dengan nama si dosen saja. Padahal, tidak ada larangan untuk itu.
Contoh lain, seorang anak bebas bicara pada orangtuanya. Tapi, pada umumnya,  seorang anak tidak akan bertanya kepada ayahnya, “Maaf, Ayah, bisakah saya mendapatkan bukti ilmiah, yang empiris dan rasional, bahwa saya anak Ayah?”  *:D, Itulah yang namanya norma-norma dalam masyarakat.
Soal “kebebasan akademik”  di dalam kampus, sudah diatur dalam pasal 22,  UU Sisdiknas, UU No. 20/2003: “Dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengembangan  ilmu pengetahuan pada perguruan tinggi berlaku kebebasan akademik dan kebebasan mimbar akademik secara otonomi keilmuan.”
Jadi, kebebasan akademik dan kebebasan mimbar, seharusnya berkaitan dengan penyelenggaraan pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Dalam konteks inilah kita bisa menilai, apakah tepat  mengundang seorang Irshad Manji ke lembaga keislaman dan Perguruan Tinggi.  Emm, dan pastinya akan  muncul berbagai pendapat, yang mungkin saja saling berlawanan, tergantung ‘pandangan alam’ atau worldview si pengamat masalah.
Seorang sekular-liberal yang telah melepaskan diri dari nilai-nilai Ketuhanan dan keakhiratan, tentu sangat setuju atau tanggap dengan  promosi Irshad Manji. Apalagi, dia orang berkewarganegaraan Barat (Kanada), menulis dalam bahasa Inggris, yang biasanya bagi sebagian orang  “bermental jajahan”  dianggap hebat dalam sebuah peradaban. Apalagi, Irshad Manji mempromosikan pola pikir liberal terhadap al-Quran dan ajaran-ajaran Islam lainnya.
Yang lebih parah lagi, si Irshad Manji sangat berani menyatakan diri sebagai “MUSLIMAH LESBIAN”, -_- apa-apaan neh!!
Bagi kaum liberal, ini sesuatu yang menarik! Belum lagi, dukungan media Barat dan lembaga-lembaga keuangan tertentu di Barat terhadap usulan dan aktivitas si Manji. Maka, dengan demikian lengkaplah unsur-unsur  yang membuat Irshad Manji patut dibanggakan sebagai “seorang liberal yang sempurna”.
Bagi kaum liberal, yang terpenting adalah kebebasan.  Tentunya kebebasan tersebut tidak mengganggu kepentingan mereka. Karena, biasanya, kaum liberal tidak akan suka jika kelemahan yang ada di dirinya di remehkan.  Dan itu manusiawi, serta itu juga terdapat dalam KUHP tentang masalah “pencemaran nama baik”.
Berdasarkan artikel lagi, katanya seorang liberal yang mulutnya terlalu lebar atau monyong, mungkin tak akan suka jika dipanggil dengan kekurangan fisik pada mulutnya.  Di sini, manusia menjadi tidak bebas!
Konon, ada sebuah klub nudis (telanjang), yang dibentuk dengan alasan ingin bebas dari segala peraturan, terutama dalam soal pakaian. Mereka benar-benar ingin bebas dari segala macam peraturan. Yang anehnya, dalam klub mereka, dibuatlah peraturan: siapa pun yang bergabung dengan mereka, maka harus telanjang! :D
 Terus, bagi seorang Muslim yang memegang teguh aqidah dan worldview (pandangan alam) Islam, sejak awal sudah memiliki paham, bahwa kebebasan dalam Islam bukanlah kebebasan melakukan tindakan apa saja atau bicara seenaknya.  Bahkan, di dalam kitab-kitab Tauhid untuk sekolah dasar, sudah diajarkan “hukum  riddah”,  yang salah satunya: seorang bisa rusak keislamannya, karena ia mengucapkan kata-kata buruk  yang merusak keimanannya.  Bertindak pun tidak bebas. Bahkan, berprasangka saja ada aturannya; alias tidak bebas! Kita dilarang untuk berprasangka buruk dalam hal-hal tertentu.
Karena itu, Muslim punya kebebasan hanya untuk memilih yang baik .  Muslim tidak bebas memilih yang jahat.  Muslim tidak bebas untuk berzina, korupsi, menyuap, apalagi berpraktik homo dan lesbi.  Bahkan, Muslim dilarang menyakiti dan membunuh dirinya sendiri, dengan alasan tubuh manusia adalah milik-Nya (Allah SWT) Seutuhnya. Selain itu Muslim pun tidak bebas mengatur hartanya, karena harus berpedoman pada aturan Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Karena itulah, seorang Muslim yang memahami dan memegang teguh worldview Islam, tidak mungkin berpikiran bebas, tanpa batas-batas yang sudah ditentukan oleh Sang Pencipta. Itulah makna dari syahadat yang diucapkannya: “Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”  Sangat aneh, jika orang mengaku Muslim, membaca dua kalimah syahadat,  tetapi menolak untuk tundak pada ketentuan Allah dan Rasul-Nya.
*** Masuk ke dalam pembahasan inti.
Dalam kerangka worldview Islam,  Sebenarnya sebagai umat mulim, kita sangat mudah menentang atas kasus Irshad Manji. Karena,
1. Irshad Manji adalah lesbi
2. dan dia bangga dalam mempromosikan kelesbiannya. Manji juga sangat bersahabat bahkan mendukung pandangan dan sikap Salman Rushdie, seorang yang sangat biadab dalam melakukan penghinaan terhadap Nabi Muhammad SAW.
Dengan logika sederhana sekali, kita bisa mengatakan, bahwa mengundang seorang lesbi seperti Irshad Manji untuk berbicara di Kampus adalah sangat tidak patut dan tidak baik. Kecuali, jika Manji berceramah di komunitas lesbian dan komplek pelacuran. Mengapa? Di dalam Islam, orang yang melakukan dosa, tapi mengakui perbuatannya dosa, masih jauh lebih baik baik daripada seorang yang menghalalkan apalagi bangga dengan perbuatan dosa.
Seorang pelacur atau koruptor masih terbuka pintu taubat baginya, dengan catatan  jika dia sadar, bahwa yang dia kejakan adalah salah, dan dia mau bertobat secara sungguh-sungguh. Tapi, ini akan berbeda sama-sekali dengan pelacur atau koruptor yang malah berbangga dengan tindakannya; sebab ia telah menyenangkan atau membantu orang lain. Misalnya, kasus seorang pelacur yang kemudian menulis buku yang berjudul: “TUHAN IZINKAN AKU MENJADI PELACUR.” -_- sungguh kasihan!
Dengan kebanggaan sebagai Lesbi, Irshad Manji sebenarnya sama posisinya dengan pezina. Bahkan, lebih dari itu, dia bangga berbuat zina. Dalam buku terbaru yang dipromosikan di Indonesia kali ini, “Allah, Liberty and Love, Suatu Keberanian Mendamaikan Iman dan Kebebasan”, dia banyak mengungkap  kebanggaannya sebagai seorang lesbi. Ia pun tak malu-malu mengatakan siapa pasangan hidupnya (entah sebagai suami atau istri). Bahkan, kata-kata yang digunakan Manji  dalam berbagai bagian buku ini sangat tidak layak untuk di baca.
Sekilas tentang isi buku Irshad manji
di buku ini, misalnya, Irshad Manji  menulis, bahwa ia mendapatkan sebuah pertanyaan dari seorang yang tak menyebutkan namanya (anonim): “Mantan-saudari se-Islam, Irshad: Apa agama pasangan lesbi Anda? Yahudi?”
Irshad Manji menjawab: “Aku bertemu pasanganku di gereja Anglikan, ketika menghadiri kebaktian sebagai bagian dari penelitianku untuk program TV baru. Terkait pertanyaanmu, aku meminta dia berterus terang mengenai agamanya. Aku menuntut kebenaran. Jawaban dia, “Panggil saja aku Shlomo.” Aku masih menyesuaikan diri.”
Trus ada lagi pertanyaan  seorang yang ditulis identitasnya oleh Manji sebagai “Mo”.  Orang ini bertanya: “Kami mestinya menendang pantatmu ke neraka, biar bisa merasakan  api neraka membakarmu hidup-hidup. Kau memang sepalsu neraka,  jangan muncul dengan buku-buku bodohmu tentang Islam. (Mo).
Jawab Irshad Manji     :  “Biar aku luruskan, Mo. Aku ini sepalsu “neraka,” tapi pantatkuharus ditendang “ke neraka” yang menurut penjelasanmu,  adalah tujuan yang “palsu”? Mau coba lagi?”
Irshad Manji sepertinya sangat menikmati pertanyaan-pertanyaan dan hujatan-hujatan kasar, sehingga memberi kesempatan padanya untuk mempertontonkan kemampuannya untuk berkata dan bersikap lebih kasar!  Ada lagi contoh ini lain,saya baca dari artikel yang memuat tentang diskusi dalam forum tertentu. Seorang bernama Falaha mengirimkan pertanyaan kepada Manji:
“Izinkan aku mengawali dengan mengatakan, betapa bermanfaat buku Anda sesungguhnya. Menurutku, ternyata, buku itu jauh lebih murah digunakan sebagai tisu toilet ketimbang paket tisu  toilet biasa. Tapi, aku ada keluhan: lembaran-lembarannya sedikit kasar di bagian tertentu, sementara kulitku sensitif. Lalu, terlintas ide bagus. Buku kamu akan bertambah laku kalau disertai pelembab... Tolong beritahu, kalau kau setidaknya memikirkan ide ini. Aku jamin, ini ada gunanya bagi penjualan bukumu, walau aku lebih suka metode kebersihan yang tradisional. Tentang citra kamu, tak banyak yang bisa aku katakan atau sarankan untuk perbaikan. Menyewa seorang humas mungkin ada gunanya (atau memecat yang sekarang). Sukses dan terus menulis. (Falaha).”
Terhadap pertanyaan yang dimuat sendiri dalam bukunya, Irshad Manji menjawab sebagai berikut:
“Salam pantat kasar! Mengenai masalah pencitraanku, aku bukan orang yang mengumbar kebiasaanku di kamar mandi pada dunia. Tapi aku lega (begitulah kira-kira), kalau jadwal buang air besarmu kelihatannya teratur. Dan artinya, kau mengambil bukuku secara teratur juga. “Intinya”, aku tak pernah butuh humas, selama aku memilikimu.”  
Melalui berbagai bagian dalam buku ini, Irshad Manji sangat jelas mempromosikan kelesbiannya.
Sulit dipungkiri, membaca buku Irshad Manji yang terbaru ini, juga buku sebelumnya, memang jauh dari kebenaran. Apakah ini ada kaitan dengan kondisi kejiwaan seorang lesbian yang banyak mengalami penderitaan di masa kecilnya? Wallahu A’lam. Yang jelas, seorang berinisial “SR”  menulis surat kepada Irshad Manji  yang juga dimuat di dalam buku Manji sendiri:
“Halo Nona Irshad sang Lesbian Feminis Liberal. Aku seorang Muslim moderat yang berpendidikan, dan kurasa kamu ini berkhayal demi ketenaran dan ketamakan. Nah, ini judul yang bagus dan bisa kau pertimbangkan untuk buku-bukumu selanjutnya: “Bagaimana aku bisa membodohi Barat agar berpikir homoseksualitas diterima dalam Islam.” Satu lagi, “Bagaimana menjual dirimu  pada setan.”
Astagfirullahalazim...
            Dari seluruh uraian tersebut, mungkin banyak hubungannya dengan norma-norma yang berlaku di indonesia, contoh norma kesusilaan, norma agama, norma sosial dan mungkin bahkan norma hukum.  Apalagi kita sebagai warga negara Indonesia yang mayoritas nya beragama islam. Semoga hal-hal tersebut tidak menodai keimanan kita. Amin Ya Rabbal alamin ^,^

0ooooooo----oooooooo0
Alhamdulillah..



0 komentar:

Search