Bukti Performa dalam Keanggunan Jilbab
Fungsi komunikasi yang terwujud dalam suatu simbol jilbab tampak tersurat dalam
QS Al Ahzab:59. Salah satu petikan di dalamnya adalah fungsi jilbab agar muslimah mudah
dikenali. Komunikasi non verbal demikian berfungsi sebagai salah satu pengikat dakwah
muslimah.
Namun, makhluk terkadang berkehendak berseberangan dengan perintah Sang
Khalik. Permasalahan muncul dikarenakan perbedaan kultural dan gaya perempuan
memaknai jilbab. Muslimah menjadi terpecah. Hal yang sangat merugikan kiranya, ketika
jilbab dan kultural menjadi sebab muslimah tidak bersatu.
Ada pesan komunikasi yang disampaikan dalam jilbab. Melalui teori ³Hallo Effect´
Edward Thorndike,penulis mencoba menguraikan permasalahan jilbab. Teori ini
menyebutkan mengenai bias kognitif yang terjadi ketika seseorang menemui suatu individu.
Hallo adalah lingkaran cahaya yang mengitari suatu objek yang menampilkan asosiasi objek
tersebut. Sebagai contoh, manakala melihat orang berjilbab dengan pakaian tertutup, rapi,
maka kognitif yang ditangkap bermacam-macam. Idealnya, sebagaimana dalam Al Quran,
muslimah berjilbab mampu membuat kognisi seseorang berpikir bahwa perempuan tersebut
memiliki sifat yang baik. Misalnya rajin, ramah, sopan, berpengetahuan luas, terampil,
teratur, dan akhlak karimah lainnya. Artinya, jilbab dimaksudkan mengomunikasikan hal
positif.
Namun,
Hallo effect
yang terjadi akan berbahaya manakala kognisi menyambutnya
dengan hal negatif. Jilbab bukan dikaitkan lagi dengan akhlak yang disebutkan diatas,
melainkan sifat yang merugikan. Sebagai contoh adalah jilbab diidentikkan dengan
,konservatif, pendiam, taklid, terkekang, tak berdaya, memiliki pengetahuan minim, tidak
ekspresif, bahkan lamban.
Tentu saja,
Hallo Effect
kedua adalah persepsi yang dilontarkan oleh pihak yang tidak
menyukai Islam. Ciri agama adalah menghadirkan solusi. Jilbab adalah solusi
penyempurnaan akhlak. Namun, tidak bisa kita pungkiri ada dualisme disini.
Dualisme bisa digambarkan sebagai berikut. Pertama, manakala seorang muslimah
berjilbab tidak melakukan performa Islami, bahkan seringkali mengecewakan. Ada
muslimah yang tidak seindah dibayangkan. Mereka mengenakan jilbab, namun tidak
melanjutkan perilaku yang mengikuti sunnah. Misalnya, ketidakmauan menuntut ilmu baru,
menjauhkan diri dari pergaulan, mudah terpengaruh dan mengeluh.
Kedua, apabila seorang yang tidak berjilbab ternyata melakukan performa Islami, dan
berkontribusi konkrit dalam masyarakat. Misalnya, mereka bersikeras menuntut ilmu,
berpartisipasi aktif untuk kepentingan perempuan, memiliki sikap dalam bertindak, dan tidak
mudah putus asa.
Keadaan kontras yang berseberangan tidak akan pernah terselesaikan selama
keduanya tidak bersepakat mengambil titik temu. Membangun titik temu adalah tugas
muslimah pada zaman kontemporer ini. Apabila kita berkutat pada perkara jilbab yang
membuat jarak menjadi jauh,maka menurut hemat penulis, hal tersebut justru merugikan
muslimah itu sendiri, dan mengerdilkan makna dakwah itu sendiri.
Dimana Titik Temu?
Membuka mata terhadap permasalahan yang ada dan meluruskan cita-cita bersama
adalah salah satu titik temu. Permasalahan di hadapan kita sangat banyak, mulai dari
kekerasan,perdagangan perempuan, eksploitasi ketenagakerjaan, ketertinggalan pendidikan,
perekonomian, hak sipil, dan masalah sosial lainnya. Keseluruhan masalah tersebut
menyangkut kepentingan perempuan. Meningkatkan nilai kemuliaan manusia adalah
tindakan Islami, tidak peduli daerah, latar belakang, suku, sebagaimana Islam agama
pembawa rahmat.
Maka, bisa dibayangkan, muslimah berjilbab akan semakin anggun dengan bukti
performa. Komunikasi lewat simbolik, berupa mengenakan jilbab semata ternyata tidak
cukup merepresentasi makna dakwah. Kebersamaan dengan kelompok heterogen justru akan
membuat dakwah semakin meluas, bahkan mempercepat hidayah bagi muslimah yang belum
berjilbab,maupun yang masih tidak benar memakai jilbab sesuai sunnah. Akhirnya,
muslimah yang belum tersadar, akan segera melengkapi kesempurnaan akhlaknya dengan
berjilbab sebagai pakaian sunnah.
berjilbab tidak melakukan performa Islami, bahkan seringkali mengecewakan. Ada
muslimah yang tidak seindah dibayangkan. Mereka mengenakan jilbab, namun tidak
melanjutkan perilaku yang mengikuti sunnah. Misalnya, ketidakmauan menuntut ilmu baru,
menjauhkan diri dari pergaulan, mudah terpengaruh dan mengeluh.
Kedua, apabila seorang yang tidak berjilbab ternyata melakukan performa Islami, dan
berkontribusi konkrit dalam masyarakat. Misalnya, mereka bersikeras menuntut ilmu,
berpartisipasi aktif untuk kepentingan perempuan, memiliki sikap dalam bertindak, dan tidak
mudah putus asa.
Keadaan kontras yang berseberangan tidak akan pernah terselesaikan selama
keduanya tidak bersepakat mengambil titik temu. Membangun titik temu adalah tugas
muslimah pada zaman kontemporer ini. Apabila kita berkutat pada perkara jilbab yang
membuat jarak menjadi jauh,maka menurut hemat penulis, hal tersebut justru merugikan
muslimah itu sendiri, dan mengerdilkan makna dakwah itu sendiri.
Dimana Titik Temu?
Membuka mata terhadap permasalahan yang ada dan meluruskan cita-cita bersama
adalah salah satu titik temu. Permasalahan di hadapan kita sangat banyak, mulai dari
kekerasan,perdagangan perempuan, eksploitasi ketenagakerjaan, ketertinggalan pendidikan,
perekonomian, hak sipil, dan masalah sosial lainnya. Keseluruhan masalah tersebut
menyangkut kepentingan perempuan. Meningkatkan nilai kemuliaan manusia adalah
tindakan Islami, tidak peduli daerah, latar belakang, suku, sebagaimana Islam agama
pembawa rahmat.
Maka, bisa dibayangkan, muslimah berjilbab akan semakin anggun dengan bukti
performa. Komunikasi lewat simbolik, berupa mengenakan jilbab semata ternyata tidak
cukup merepresentasi makna dakwah. Kebersamaan dengan kelompok heterogen justru akan
membuat dakwah semakin meluas, bahkan mempercepat hidayah bagi muslimah yang belum
berjilbab,maupun yang masih tidak benar memakai jilbab sesuai sunnah. Akhirnya,
muslimah yang belum tersadar, akan segera melengkapi kesempurnaan akhlaknya dengan
berjilbab sebagai pakaian sunnah.
Sebagai penutup, kiranya ayat ini menjadi terus pengingat muslimah. Sebab, meski
semua muslimah mengetahui jilbab, namun tidak semua menyadari bahwasanya berjilbab
adalah suatu kewajiban. Semoga kita terlindung oleh rahmatNya.
Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istri, anak-anak perempuan dan istri-istri orang
Mukmin, µHendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.yang
demikian itu supaya mereka mudah dikenali, oleh sebab itu mereka tidak diganggu. Dan
Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
.´ (QS: Al Ahzab:59
semua muslimah mengetahui jilbab, namun tidak semua menyadari bahwasanya berjilbab
adalah suatu kewajiban. Semoga kita terlindung oleh rahmatNya.
Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istri, anak-anak perempuan dan istri-istri orang
Mukmin, µHendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.yang
demikian itu supaya mereka mudah dikenali, oleh sebab itu mereka tidak diganggu. Dan
Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
.´ (QS: Al Ahzab:59

0 komentar:
Posting Komentar